“apa yang engkau sembunyikan dariku, saudaraku?”
“api dan dua bola mata”
“selain itu?”
“dua sayap terbakar bara”
“lalu?”
“kalimat nanah, juga luka!”
“tentang darah?”
“tak hanya itu, belati dan segumpal hati yang sobek!”
“Engkau benar-benar mencintainya?”
“ya, demi anak-anakku!”
“bagaimana dengan dia?”
“entahlah, aku masih wanita sepertimu”
“lalu mematung saja seperti itu, kau anggap pilihan terbaik untukmu?”
“tak ada lagi yang bisa aku perbuat selain menunggu”
“tanpa kau sadari, kodratmu sebagai wanita telah memenjara perasaanmu!”
“pria lebih kuat dari pada kita!”
“di sisi-sisi lain wanita selalu menuntut hak yang sama dengan kaum pria”
“harusnya begitu, Tuhan tak pernah mengkerdilkan kaum hawa, bukan?!”
“justru kaum hawa sendiri yang membuat batasan-batasan itu!!”
“maksudmu?”
“wanita menempatkan jiwanya pada medan magnet, pasif, kaku dan stagnan. Mereka menyifati dirinya sebagai makhluk yang rentan sakit, sensitif dan terlahir dengan sifat pemalu berlipat-lipat jauh lebih besar dari pada pria. Padahal. . .“
“Padahal apa?!”
“nafsu kita lebih besar dari pada mereka!!”
“bagaimana kamu tahu?”
“aku wanita beranak tiga!!”
“lalu bagaimana mungkin aku yang akan memulainya? seperti lazimnya wanita, aku menunggu pangeran berkuda putih datang menjemputku, tak ada yang salah kan!?”
“Inikah bentuk pengorbananmu pada cinta?”
“aku menempatkan laku-ku seperti yang Tuhan mau”
“membiarkan jiwamu dalam kegelisahan tak menentu, begitu maksudmu??! Bukan, bukan ini yang Tuhan inginkan! Wanita pasif tak akan pernah merasakan indahnya cinta. Diam mematung di sudut ruang sepi bukanlah jawaban dari semua kegelisahanmu. Lihatlah, jiwamu kini merayap seperti lintah, perlahan keluar dari tulang daging jasadmu. Ego telah menyiksamu, selamanya jiwamu meradang kesakitan, cepatlah bertindak jangan sampai jiwamu enggan berdiam lagi di tubuhmu!”
“lalu apa yang harus aku perbuat?”
“Pergilah padanya, pada yang engkau yakini ia cinta. Tak ada alasan untuk menunggu ia hadir di hadapanmu. Merdekakan jiwamu, katakan pada yang engkau cintai tentang apa yang terjadi, lalu pasrahkan semua urusan pada dzat yang menggenggam hati hamba-hambanya”
“beri aku waktu semenit untuk berpikir, semoga ada keajaiban lalu ia-pun datang membawa bintang untukku”
“Jangan! Jangan ditunda lagi! Sedetik setelah ini adalah rahasia Tuhan yang tak pernah kita tahu. Bisa jadi pangeranmu tersesat di persimpangan, lalu berbelok arah menuju arah yang lain. Maka sebelum matahari terbenam, cepatlah lunasi hutangmu, katakan cinta atau kamu akan menyesal melihat jiwamu berdarah-darah ditelan senja!”
[Asbak, 14.00 wib – dua puluh satu-april-duaribusebelas]
_________________________________________
Selamat Hari Kartini 1431 Hijriyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar