Minggu, 23 Desember 2012

#22

Lembar kosong, aku tersesat dalam rumpun kalimat bisu. Seperti dalam rumah pengap, segala pintu dan celahnya tertutup rapat.

Kemarilah. Temani aku dalam gigil yang sangat. Gigil tak kunjung usai menyerupai warna yang tak ada habisnya terangkum kata. Engkau tak salah, begitupun aku benar adanya. Seperti anak-anak musim yang tak pernah tahu kapan titik langi berakhir pada ejaannya. Seperti laskar gerimis berkejaran dengan angin, tak pernah tahu di sudut bumi yang mana gurindam rindu basah dijatuhkan. 


Amma ba'du.
Pada malam yang pekat, kita benar-benar gelap. Dan, pada senja yang rona kau tak benar-benar nampak nyata kulihat, abstrak!

                                             




Minggu, 25 November 2012

BIRU

 
[ceruk bumi akar daun reranting pohon ranum buah rindu. mawar duri darah belati mayat bangkai jasad-jasad. elok rupa warna temaram pagi gegas pergi berlalu menjauh. lendir nanah dahak ingus sperma dan doa]

Senin, 30 April 2012

[-]

[bait-bait mantra tersisa tak juga menolong nyawa anak-anak darah yang muntah dari cerobong nanah]

Kamis, 09 Februari 2012

i . r . m . a

Terlalu rumit untuk kutarik garis mungil pada belahan dadamu yang menyerupai pita berwarna ungu itu. Engkau begitu indah kunikmati dalam frasa, meski perih kulumat nyata dalam bara. Seperti patahan musim, kau tak pernah nampak ada pada saat aku meminta. Menyiksa?

ya!

Minggu, 01 Januari 2012

C.E.A

Tubuh gigil menahan nyilu sekuat besi. Satu persatu ditatapnya segala sisi dari sudut-ke sudut ruang yang pengap, darah muncrat, jemari yang basah, juga tangis meletus tepat di pergantian hari; letupan mercon, kembang api dan gemuruh sorak sorai membahana memekik terompet tahun yang baru tiba.

Di sebrang jalan, jasad lunglai lemah tak berdaya. Tak ada pesta istimewa, hanya tangisan kecil dari tempurung mungil yang di jidatnya tertancap beling. Meleleh air mata dari mulut-mulut knalpot yang meraung sekuat tenaga, seperti kesakitan, tertindas, parau suaranya terbelah kacau. Titik lelah menjemput, waktu terlempar jauh dari garis takdir yang ditentukan. I
nna lillahi wainna ilaihi rajiun. M
ulut terkatup, lendir-lendir nanah menetes dari kedua lubang hidung, seperti cairan sperma tak beraroma di otak, cea!

hujan di tanah madura. [awal duaribuduabelas]