Minggu, 01 Januari 2012

C.E.A

Tubuh gigil menahan nyilu sekuat besi. Satu persatu ditatapnya segala sisi dari sudut-ke sudut ruang yang pengap, darah muncrat, jemari yang basah, juga tangis meletus tepat di pergantian hari; letupan mercon, kembang api dan gemuruh sorak sorai membahana memekik terompet tahun yang baru tiba.

Di sebrang jalan, jasad lunglai lemah tak berdaya. Tak ada pesta istimewa, hanya tangisan kecil dari tempurung mungil yang di jidatnya tertancap beling. Meleleh air mata dari mulut-mulut knalpot yang meraung sekuat tenaga, seperti kesakitan, tertindas, parau suaranya terbelah kacau. Titik lelah menjemput, waktu terlempar jauh dari garis takdir yang ditentukan. I
nna lillahi wainna ilaihi rajiun. M
ulut terkatup, lendir-lendir nanah menetes dari kedua lubang hidung, seperti cairan sperma tak beraroma di otak, cea!

hujan di tanah madura. [awal duaribuduabelas]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar