Di sebrang jalan, jasad lunglai lemah tak berdaya. Tak ada pesta istimewa, hanya tangisan kecil dari tempurung mungil yang di jidatnya tertancap beling. Meleleh air mata dari mulut-mulut knalpot yang meraung sekuat tenaga, seperti kesakitan, tertindas, parau suaranya terbelah kacau. Titik lelah menjemput, waktu terlempar jauh dari garis takdir yang ditentukan. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun. Mulut terkatup, lendir-lendir nanah menetes dari kedua lubang hidung, seperti cairan
hujan di tanah madura. [awal duaribuduabelas]